Judul : Frankenstein
Penulis : Mary Shelley
Ibu Frankenstein adalah seorang yang baik dia suka mengunjungi keluaga-keluarga miskin. Saat ia berkunjung ke sebuah rumah petani miskin yang mempunyai 4 anak laki-laki dan yang termuda adalh seorang anak perempuan yang manis, ibu frankenstein memutuskan untuk merawatnya sebagai anaknya sendiri. Anak itu bernama Elizabeth Lavenza. Lalu orangtua Frankenstein memiliki seorang anak laki-laki bernama Ernest yang usianya 7 tahun lebih tua dari Frankenstein. Lalu, memiliki anak laki-laki lagi bernama William.
Victor Frankenstein sangat ingin tahu tentang rahasia kehidupandia selalu senang mempelajari fakta-fakta yang ada di jagad raya ini. Pertama ia tertarik pada petir, lalu listrik dan lain sebagainya. Dia pun tumbuh menjadi seorang laki-laki yang pandai.
Saat usianya menginjak 17 tahun orangtuanya memutuskan mengirim Frankenstein untuk melanjutkan sekolahnya ke Universitas Ingoldstadt. Namun sebelum keberangkatannya, sebuah peristiwa menyedihkan terjadi. Elizabeth sakit parah dan hidupnya dalam bahaya. Ibunya selalu berada di sebelah ranjangnya untuk merawat Elizabeth siang dan malam. Tiga hari kemudian, Elizabeth membaik. Namun sekarang ibu yang sakit parah. Selama beberapa hari, Frankenstein sekeluarga merawatnya. Dan pada akhir hayatnya, ia berkata pada ayah, Frenkenstein dan Elizabeth bahwa ia ingin kelak Elizabeth dan Frankenstein akan menikah.
Akhinya, Frankenstein pun pergi untuk menuntut ilmu di Ingoldstad yang dulu sempat tertunda. Di sana ia belajar tentang banyak hal. Dia pun hampir setiap hari melakukan percobaan-percobaan di laboraturium. Terkadang dia menghabiskan malamnya di sana. Kini dia tertarik pada rahasia kehidupan. Frankenstein melihat bagaimana kematian selalu berhasil mengalahkan kehidupan. Ia hendak memutar logika yang telah sejak lama diakui sebagai kebenaran mutlak ini, yakni kematian juga bisa menciptakan kehidupan. Diapun mencoba menciptakan makhluk hidup dari potongan-potongan mayat ditambah dengan rumus-rumus rumitnya. Dia mengerjakan pekerjaan kerasnya kamar lantai atas rumah kontrakannya yang tak jauh dari Ingoldstadt. Dia menyelesaikan pekerjaannya seorang diri tanpa adas yang tahu.
Dari usaha kerasnya yang tanpa batas inilah kemudian tercipta sesosok makhluk baru yang mengerikan. Makhluk itu bertubuh tinggi, besar, kulit kuning yang hampir tidak dapat menyembunyikan jaringan otot dan pembuluh darah di bawahnya, rambut sehitam beledu panjang dan lebat, mata sewarna dengan lekuk mata, wajah keriput dan bibir lurus berwarna hitam.
Apa yang terjadi kemudian pada diri Frankenstein adalah kekecewaan mendalam. Setelah makhluk ciptaannya hidup, ia membayangkan kengerian yang menyesakkan napas serta rasa jijik yang mencekik, apalagi di kemudian hari makhluk ciptaannya yang kekuatannya berpuluh-puluh kali kekuatan manusia biasa itu menunjukkan sifat-sifat jahat dan pendendam. Makhluk itu pernah berkata bahwa ia akan membuat Frankenstein terus menderita dan tidak akan memiliki kebahagiaan seperti dirinya.
Karena terlalu kaget akhirnya Frankenstein pun jatuh sakit selama berbulan-bulan, ia pun selalu memikirkan ucapan-ucapan monster tersebut. Setelah mendengar kabar bahwa dia sakit, Clerval pun datng menjenguk dan merawatnya hingga ia sehat. Lalu, Frangkenstein pun menulis surat untuk keluarganya di Jenawa, ia menjelaskan bahwa ia di sana baik-baik saja.
Beberapa bulan setelahnya, keadaan menjadi membaik. Sepucuk surat dari ayahnya diterimanya. Dalam surat itu ayahnya berkata bahwa adiknya William yang sangat manis meninggal dunia. Setelah 6 tahun tidak pulang ke Jenawa, Frankenstein pun pulang. Ternyata polisi telah menemukan pembunuhnya, Justine Moritz. Semua orang tidak memercayainya. Dia adalah anak yang baik, dia pun tidak memiliki alasan untuk membunuhnya. Namun, hukuman tetap harus dijalani walau semua anggota keluarga korban tak satu pun memercayainya. Akhirnya Justin Moritz pun divonis hukuman mati.
Frankenstein menyadari bahwa tidak mungkin itu perbuatan Justine, dia mengira itu adalah perbuatan si Monster! Dia mengira monster itu membuat seolah-olah Justine lah pembunuhnya. Frankenstein pun sangat merasa bersalah.
Dua bulan setelah kematian Justine, Frankenstein memutuskan pergi ke pegunungan Chamonix. Setelah tiba di sana ia pun langsung tidur karena kelelahan. Keesokan harinya ia mendaki puncak Montavert. Di sana ia bertemu dengan si monster. Frankenstein pun meluapkan semua amarahnya saat itu dengan mencacimaki si monster. Monster itu pun juga meluapkan rasa marahnya di sana, rasa marah ke pada Frankenstein yang telah menciptakannya tanpa memberi kebahagiaan.
Monster itu bercerita bahwa selama dua bulan ini dia hidup di sebuah rumah kosong. Tak jauh dari rumah itu ada sebuah rumah kecil dengan penghuni yang hidup bahagia. Monster ingin hidup bahagia seperti mereka. Di sana ada seorang perempuan yang cantik dan baik hati, Monster pun jatuh hati terhadap perempuan itu. Namun, si Monster sadar jika ia menunjukkan dirinya di hadapan mereka, mereka emu pasti lari ketakutan.
Lalu si Monster pun berjanji pada Frankenstein tidak akan mengganggu hidupnya, tidak akan membuat hidupnya menderita lagi. Namun dengan satu syarat. Dia ingin dibuatkan satu monster wanita untuk menjadi pasangan hidupnya dan membuatnya bahagia.
Frenkenstein pun menyanggupinya. Lalu dia pun mulai membuat seorang monster wanita di Skotlandia di sebuah tempat yang tenang dan sendiri.
Saat pembuatan monster wanita setengah jadi, tiba-tiba Frankenstein kebingungan menghampirinya. Dia berfikir dengan adanya dua monster maka akan ada dua kekacauan pula. Lalu dia menghentikan pekerjaannya itu. Tetapi monster itu tahu apa yang dilakukan oleh Frankenstein. Monster mengerikan itu pun marah besar lalu menghampiri Frankenstein dan Monster it mengancamnya.
Lalu Frankenstein pergi ke London untuk menemui sahabatnya, Clerval. Sudah berhari-hari ia ada di kapal kecil yang membawa dirinya seorang diri menuju London. Karena kelelahan Frankenstein pun tertidur, namun saat ia bangun dia berada di tempat yang ia tidak kenal.
Lantas ia menanyakan hal yang membuatnya bingung itu ke pada orang-orang yang ada di sana. Saat ia bertanya, ia malah dituduh dengan tuduhan sebagai pembunuh. Karena sebelumnya di sana terjadi pembunuhan dan pembunuhnya diketahui memakai perahu seperti Frankenstein. Dia pun terkejut karena tidak tahu apa-apa. Ia pun dijebloskan dalam penjara sambil menunggu persidangan.
Saat ayahnya mendengar berita tersebut ayahnya langsung datang menengok sambil membawakannya seorang pengacara. Dan akhirnya Frankenstein tidak terbukti bersalah dan dibebaskan. Kemudian ayahnya memberinya berita duka yang datang dari sahabatnya, Clerval. Ia sudah tewas. Fgrankenstein terkejut.
Namun kehidupan tetap berjalan, Frankenstein yang sudah lama tidak pulang ke Jenawa, pulang ke Jenawa bersama ayahnya. Saat tiba di sana ia bertemu dengan Elizabeth. Ayahnya pun ingin ia lekas-lekas menikahi Elizabeth.
Tak lama setelahnya, Frankenstein menikah. Setelah menikah ia dan istrinya, Elizabeth pergi berlibur. Namun saat malam pertama ia menikmati liburannya itu, Elizabeth tewas terbunuh monster, dengan cara dicekik dan digantung.
Beberapa bulan setelah kematian Elizabeth, ayahnya pergi menyusulnya. Ayahnya meninggal karena sakit. Sakitnya disebabkan oleh kesedihannya ditinggal Elizabeth.
Frankenstein pun marah besar. Ia memutuskan untuk mencari Monster itu ke mana-mana. Ia berhasil menemukannya namun Monster itu selalu bisa kabur dan membuatnya lebih marah lagi. Saat pencariannya itulah, ia Frankenstein bertemu dengan sekelompok orang dengan pemimpin bernama Robert Walton yang melakukan perjalanan ke kutub utara.
Walton menemukan Frankenstein dalam keadaan kurus, lemah dan sakit. Waton pun mengajaknya turut berlayar bersamanya. Dalam perjalanan menuju ujung paling utara bumi, Frankenstein menceritakan kisahnya dengan Monster tersebut.
Malangnya, dalam perjalanan mereka terjebak badai dahsyat yang menyebabkan hampir seluruh awak kapal meninggal. Frankenstein sakit parah dan sangat lemah saat itu. Dia tidak mampu berdiri dari ranjangnya.
Saat genting itulah ia bertemu dengan monster. Walton pun menyaksikan pertemuan keduanya dan mendengarkan percakapannya. Sebelum Frakenstein berbicara banyak,ajal menjemputnya. Dan saat itu pula lah Monster itu menyatakan penyesalannya yang mendalam karena telah menyakiti penciptanya ke pada Walton yang saat itu sangat ketakutan. Lalu dengan cepat Monster itu loncat dari kapal dan tak terlihat lagi. Itu lah akhir dari kisah mengerikan ini.
Jumat, 08 Mei 2009
SINOPSIS : Pudarnya Pesona Cleopatra
Judul : Pudarnya Pesona Cleopatra
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
“Pudarnya Pesona Cleopatra” menceritakan tentang kisah seortang anak laki-laki yang dijodohkan oleh ibunya. Dia dijodohkan dengan anak perempuan sahabat ibunya yang bernama Raihana. Dia adalah lulusan Mesir, sedang Raihana adalah lulusan terbaik di kampus dalam negeri dan hafal Al Qur’an. Awalnya dia menolak untuk dijodohkan, namun karena ibunda tercintanya dan karena ia ingin mendapat pahala dari pengorbanannya membahagiakan ibunya, akhirnya ia mau dijodohkan.
Mungkin karena ia terlalu sering hidup di Mesir, ia sudah terpikat akan kecantikan gadis-gadis Mesir yang dianggapnya titisan Cleopatra. Dia kecewa karena ternyata Raihana, tak seperti yang diharapkannya. Dia berwajah babyface dan anggun. Namun tak seperti yang diharap dan tetap tak ada cinta di hatinya.
Beberapa hari sebelum pernikahannya ia berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta untuk Raihana. Namun, rasa cinta itu tetap tak datang jua. Hingga hari pernikahannya itu terjadi, tetap tak ada cinta. Pernikahan berlangsung dengan sangat meriah, wajah Raihana begitu berseri-seri, namun tak begitu dengannya. Jika bukan ibunya yang meminta, ia tak kan pernah menikah dengan Raihana.
Layaknya pengantin baru, ia berusaha untuk mesra tapi bukan cinta. Ia berpura-pura bahagia, Hanya karena ia sering membaca ayat-ayatNya saja. Hanya berkah dari Allah yang diharapnya atas baktinya terhadap ibunya. Dua bulan setelah pernikahan, ia membawa istrinya, Raihana ke rumah kontrakannya di Malang.
Hari demi hari ia lewati bersama dengan orang yang samasekali tak dicintainya. Pikirannya masih juga terhipnotis oleh kecantikan aura gadis-gadis Mesir. Itu membuatnya semakin merasa meneyesal menikahi Raihana. Hingga pada suatu hari Raihana merasa agak terganggu oleh perilaku suaminya tersebut. Lalu Raihana menanyakan mengapa suaminya tercinta, tempatnya mencari ridho Allah begitu bersikap dingin dengannya. Tidur pun ia lebih sering di ruang tamu atau di ruang kerjanya, dibandinng dengan istrinya. Dia menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dipermasalahkan, namun ia menyebut istrinya itu dengan sebutan ”mbak”. Betapa hancur hati Raihana. Sampai-sampai Raihana memeluk kakinya, memohon kasihsayang kepadanya.
Setahun sudah usia pernikahannya. Ia tetap tidak bisa melupakan kecantikan titisan Cleopatra, dan ia belum bisa mencintai istri yang begitu mengabdi kepadanya, yang begitu perhatian kepadanya, yang selalu mengingatkannya untuk sholat, yang selalu merawatnya dikala sakit. Pada suatu hari mereka diundang ke sebuah pernikahan salah satu saudara dekatnya. Saat memberi tahukan berita tersebut Raihana begitu senang karena suami tercintanya memanggilnya dengan panggilan ”dinda”. Raihana sekarang sudah merasa dianggap sebagai seorang istri. Meskipun sebenarnya, dia hanya merasa sedikit keterlaluan dengan sikapnya yang acuh tak acuh pada istrinya selama ini.
Mereka berdua datang ke acara pernikahan itu. Mereka di sambut dengan penuh suka-cita. Di sana mereka begitu dielu-elukan. Mereka dianggap sebagai pasangan ideal, namun dia sedikit illfeel dengan anggapan tersebut. Semua sanak saudara ada di sana, termasuk ibu dan mertuanya. Yang tak disangka olehnya, ibunda tercintanya yang membuat ia menikahi Raihana mengutarakan keinginannya untuk segera memiliki seorang cucu dari mereka. Raihana sangat senang. Tapi suaminya, sangat kacau.
Setelah peristiwa yang membuat dia kaget, dia mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Dia berpura-pura kembali mesra dengan Raihana, sebagai suami betulan. Beberapa bulan kemudian Raihana hamil. Wajahnya bertambah manis. Tetapi tetap belum ada cinta di hati dia.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hati dia menangis karena cinta tak kunjung tiba. Dia terus saja berharap dan berdoa kapada Allah agar cinta itu segera hadir.
Sejak itu dia semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak dia perhatikan lagi. Setiap saat nurani dia menenyakan diamana tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Dia hanya diam dan mendesah sedih.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orangtuanya dengan alasan kesehatan. Dia mengabulkan permintaan Raihana dan dia mengantarkan Raihana kerumahnya. Karena rumah mertuanya jauh dari kampus tempat dia mengajar, mertua dia tak menaruh curiga ketika dia harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika dia pamitan, Raihana berpesan pada dia untuk mencairkan tabungan Raihana yang buku tabungannya di letakkan di bawah bantal dan nomer pinnya adalah tanggal pernikahan mereka untuk menambah biaya persalinan.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, dia merasa sedikit lega. Setiap hari dia tidak bertemu dengan orang yang membuat dia tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja dia merasa sedikit repot, harus menyiapkan semua kebutuhannya. Tetapi itu bukan menjadi masalah besar baginya karena dia sudah punya pengalaman hidup sendiri saat kuliah di Mesir dulu.
Waktu terus berjalan, dan dia merasa nyaman tanpa Raihana. Suatu saat dia pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, dia merasa tubuhnya benar-benar lemas. Dia muntah-muntah, menggigil, kepalanya pusing dan perutnya mual. Saat itu terlintas dihatinya andaikan ada Raihana, pasti ada yang telah menyiapkannya air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungnya, lalu menyuruhnya istirahat dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Malam itu dia benar-benar tersiksa dan menderita. Dia terbangun jam enam pagi. Badannya sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hatinya, dia belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu dia tak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatannya mengajar di kampus. Apalagi dia mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Dia jadi banyak berbincang dengan professor itu tentang Mesir. Dalam pelatihan dia juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Pak Qalyubi menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. Dia sangat mersa senang dan antusias sekali mendengar cerita yang akan diceritakan oleh orang yang sangat dihomatinya itu. Pak Qalyubi memulai ceritanya dengan melontarkan satu pertanyaan yang membuatnya, mengingat kembali istri yang hampir dilupakannya itu. Pak Qalyubi bertanya, apakah dia sudah memiliki istri. Lalu bertanya lagi, apakah istrinya itu orang Indonesia atau orang Mesir. Dia menjawab apa adanya. Pak Qalyubi pun mulai menceritakan kisah hidupnya yang panjang dan memilukan.
Dulunya ia pernah mengenyam bangku kuliah di Mesir. Dulu ia juga sangat mengagumi dan memuja-muja gadis-gadis Mesir. Dan pada suatu hari ia dikenalkan dengan seorang gadis Mesir yang tidak lain adalah anak dari pemilik kos-kosan yang ia tinggali. Tak lama setelah itu, bunga-bunga cinta mulai menghiasi hubungan mereka. Teman-teman sesama Indonesia yang mengekos di tempat yang sama dengannya memperingatinya tentang kebusukan hati gadis titisan Cleopatra itu, namun karena sedang dilanda asmara ia sama sekali tak menghiraukan nasehat teman-temannya. Ia menganggap teman-temannya itu hanya iri melihat keberhasilannya mendapatkan cinta seorang gadis yang ayunya bukan kepalang. Setelah lulus, dinikahi dan dibawanya wanita Mesir itu ke Indonesia. Awalnya, kehidupan dirasa sangat bahagia dan meyenangkan dengan seorang istri yang cantik. Namun, lambat laun tingkah laku istrinya itu membuatnya sedikit pusing. Keinginannya membeli barang-barang mahal membuat Profesor itu kualahan. Istrinya selalu meminta uang yang banyak, tetapi hanya untuk berfoya-foya tanpa menghiraukan keringat sang suami yang mencari nafkah. Hingga pada suatu hari, di saat Pak Qalyubi sedang dilanda krisis ekonomi, dia tak mampu lagi memenuhi segala keinginan istrinya. Tak diduga, istrinya pergi tanpa izinnya sambil membawa ketiga anaknya ke Mesir. Pak Qalyubi tak mampu berbuat apa-apa, mengingat kondisi keuangannya yang sedang acak kadut. Beberapa minggu setelah itu, dia mendapat surat dari Mesir. Sungguh terkejut hatinya, ketika yang didapati adalah surat cerai dari istrinya. Tak ada harapan lagi untuk bertemu wanita Mesir yang rupawan itu. Tak ada lagi kesempatan untuk bercengkrama dengan anak-anaknya. Sesal tak menjadi obat segala khilafnya. Dia hanya bisa termangu, meratapi nasib malangnya.
Mendengar cerita Pak Qalyubi, hatinya tersentuh. Terlintas dibenaknya, istri yang sedang hamil tua, yang baik, perhatian, ramah, patuh, mengandung darah daging buah cintanya. Dengan sigap tiba-tiba ia pamit dan cepat-cepat pulang ke rumah kontrakannya.
Kemudian ia mengambil buku tabungan istrinya dan mengambil uangnya di bank. Dengan uang itu-dan sedikit tambahan darinya- ia membeli segala perlengkapan melahirkan dan perlengkapan bayi. Saat itu adalah saat dimana ia baru menyadari betapa ia beruntung mendapat seorang istri yang shalehah. Dengan hati berbungan-bunga kemudian ia mendatangi rumah mertuanya yang menjadi tempat tinggal sementara istrinya selagi ditinggal seminar.
Namun, tak disangka dan tak dinyana olehnya. Yang didapati saat itu adalah berita duka, kematian istrinya. Hatinya begitu sakit. Telinganya seakan menolak dan tak percaya. Lalu mertua yang tahu perasaannya itu meminta maaf padanya karena tidak memberi kabar apapun tentang kematian dan penyebab istrinya yang meninggal 3 hari lalu. Sebelum meninggal istrinya, berpesan terhadap ibunya untuk tidak memberi tahu tentang sakitnya, karena ia tidak mau mengganggu sang suami yang sedang mengikuti penataran penting di tempat mengajarnya.
Dengan hati hancur dan penuh penyesalan, dia dengan diantar mertuanya mendatangi makam sang istri. Di sana mereka berdoa bersama. Semoga arwahnya dapat diterima di sisi-Nya. Amin.
Mungkin karena ia terlalu sering hidup di Mesir, ia sudah terpikat akan kecantikan gadis-gadis Mesir yang dianggapnya titisan Cleopatra. Dia kecewa karena ternyata Raihana, tak seperti yang diharapkannya. Dia berwajah babyface dan anggun. Namun tak seperti yang diharap dan tetap tak ada cinta di hatinya.
Beberapa hari sebelum pernikahannya ia berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta untuk Raihana. Namun, rasa cinta itu tetap tak datang jua. Hingga hari pernikahannya itu terjadi, tetap tak ada cinta. Pernikahan berlangsung dengan sangat meriah, wajah Raihana begitu berseri-seri, namun tak begitu dengannya. Jika bukan ibunya yang meminta, ia tak kan pernah menikah dengan Raihana.
Layaknya pengantin baru, ia berusaha untuk mesra tapi bukan cinta. Ia berpura-pura bahagia, Hanya karena ia sering membaca ayat-ayatNya saja. Hanya berkah dari Allah yang diharapnya atas baktinya terhadap ibunya. Dua bulan setelah pernikahan, ia membawa istrinya, Raihana ke rumah kontrakannya di Malang.
Hari demi hari ia lewati bersama dengan orang yang samasekali tak dicintainya. Pikirannya masih juga terhipnotis oleh kecantikan aura gadis-gadis Mesir. Itu membuatnya semakin merasa meneyesal menikahi Raihana. Hingga pada suatu hari Raihana merasa agak terganggu oleh perilaku suaminya tersebut. Lalu Raihana menanyakan mengapa suaminya tercinta, tempatnya mencari ridho Allah begitu bersikap dingin dengannya. Tidur pun ia lebih sering di ruang tamu atau di ruang kerjanya, dibandinng dengan istrinya. Dia menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dipermasalahkan, namun ia menyebut istrinya itu dengan sebutan ”mbak”. Betapa hancur hati Raihana. Sampai-sampai Raihana memeluk kakinya, memohon kasihsayang kepadanya.
Setahun sudah usia pernikahannya. Ia tetap tidak bisa melupakan kecantikan titisan Cleopatra, dan ia belum bisa mencintai istri yang begitu mengabdi kepadanya, yang begitu perhatian kepadanya, yang selalu mengingatkannya untuk sholat, yang selalu merawatnya dikala sakit. Pada suatu hari mereka diundang ke sebuah pernikahan salah satu saudara dekatnya. Saat memberi tahukan berita tersebut Raihana begitu senang karena suami tercintanya memanggilnya dengan panggilan ”dinda”. Raihana sekarang sudah merasa dianggap sebagai seorang istri. Meskipun sebenarnya, dia hanya merasa sedikit keterlaluan dengan sikapnya yang acuh tak acuh pada istrinya selama ini.
Mereka berdua datang ke acara pernikahan itu. Mereka di sambut dengan penuh suka-cita. Di sana mereka begitu dielu-elukan. Mereka dianggap sebagai pasangan ideal, namun dia sedikit illfeel dengan anggapan tersebut. Semua sanak saudara ada di sana, termasuk ibu dan mertuanya. Yang tak disangka olehnya, ibunda tercintanya yang membuat ia menikahi Raihana mengutarakan keinginannya untuk segera memiliki seorang cucu dari mereka. Raihana sangat senang. Tapi suaminya, sangat kacau.
Setelah peristiwa yang membuat dia kaget, dia mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Dia berpura-pura kembali mesra dengan Raihana, sebagai suami betulan. Beberapa bulan kemudian Raihana hamil. Wajahnya bertambah manis. Tetapi tetap belum ada cinta di hati dia.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hati dia menangis karena cinta tak kunjung tiba. Dia terus saja berharap dan berdoa kapada Allah agar cinta itu segera hadir.
Sejak itu dia semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak dia perhatikan lagi. Setiap saat nurani dia menenyakan diamana tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Dia hanya diam dan mendesah sedih.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orangtuanya dengan alasan kesehatan. Dia mengabulkan permintaan Raihana dan dia mengantarkan Raihana kerumahnya. Karena rumah mertuanya jauh dari kampus tempat dia mengajar, mertua dia tak menaruh curiga ketika dia harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika dia pamitan, Raihana berpesan pada dia untuk mencairkan tabungan Raihana yang buku tabungannya di letakkan di bawah bantal dan nomer pinnya adalah tanggal pernikahan mereka untuk menambah biaya persalinan.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, dia merasa sedikit lega. Setiap hari dia tidak bertemu dengan orang yang membuat dia tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja dia merasa sedikit repot, harus menyiapkan semua kebutuhannya. Tetapi itu bukan menjadi masalah besar baginya karena dia sudah punya pengalaman hidup sendiri saat kuliah di Mesir dulu.
Waktu terus berjalan, dan dia merasa nyaman tanpa Raihana. Suatu saat dia pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, dia merasa tubuhnya benar-benar lemas. Dia muntah-muntah, menggigil, kepalanya pusing dan perutnya mual. Saat itu terlintas dihatinya andaikan ada Raihana, pasti ada yang telah menyiapkannya air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungnya, lalu menyuruhnya istirahat dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Malam itu dia benar-benar tersiksa dan menderita. Dia terbangun jam enam pagi. Badannya sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hatinya, dia belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu dia tak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatannya mengajar di kampus. Apalagi dia mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Dia jadi banyak berbincang dengan professor itu tentang Mesir. Dalam pelatihan dia juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Pak Qalyubi menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. Dia sangat mersa senang dan antusias sekali mendengar cerita yang akan diceritakan oleh orang yang sangat dihomatinya itu. Pak Qalyubi memulai ceritanya dengan melontarkan satu pertanyaan yang membuatnya, mengingat kembali istri yang hampir dilupakannya itu. Pak Qalyubi bertanya, apakah dia sudah memiliki istri. Lalu bertanya lagi, apakah istrinya itu orang Indonesia atau orang Mesir. Dia menjawab apa adanya. Pak Qalyubi pun mulai menceritakan kisah hidupnya yang panjang dan memilukan.
Dulunya ia pernah mengenyam bangku kuliah di Mesir. Dulu ia juga sangat mengagumi dan memuja-muja gadis-gadis Mesir. Dan pada suatu hari ia dikenalkan dengan seorang gadis Mesir yang tidak lain adalah anak dari pemilik kos-kosan yang ia tinggali. Tak lama setelah itu, bunga-bunga cinta mulai menghiasi hubungan mereka. Teman-teman sesama Indonesia yang mengekos di tempat yang sama dengannya memperingatinya tentang kebusukan hati gadis titisan Cleopatra itu, namun karena sedang dilanda asmara ia sama sekali tak menghiraukan nasehat teman-temannya. Ia menganggap teman-temannya itu hanya iri melihat keberhasilannya mendapatkan cinta seorang gadis yang ayunya bukan kepalang. Setelah lulus, dinikahi dan dibawanya wanita Mesir itu ke Indonesia. Awalnya, kehidupan dirasa sangat bahagia dan meyenangkan dengan seorang istri yang cantik. Namun, lambat laun tingkah laku istrinya itu membuatnya sedikit pusing. Keinginannya membeli barang-barang mahal membuat Profesor itu kualahan. Istrinya selalu meminta uang yang banyak, tetapi hanya untuk berfoya-foya tanpa menghiraukan keringat sang suami yang mencari nafkah. Hingga pada suatu hari, di saat Pak Qalyubi sedang dilanda krisis ekonomi, dia tak mampu lagi memenuhi segala keinginan istrinya. Tak diduga, istrinya pergi tanpa izinnya sambil membawa ketiga anaknya ke Mesir. Pak Qalyubi tak mampu berbuat apa-apa, mengingat kondisi keuangannya yang sedang acak kadut. Beberapa minggu setelah itu, dia mendapat surat dari Mesir. Sungguh terkejut hatinya, ketika yang didapati adalah surat cerai dari istrinya. Tak ada harapan lagi untuk bertemu wanita Mesir yang rupawan itu. Tak ada lagi kesempatan untuk bercengkrama dengan anak-anaknya. Sesal tak menjadi obat segala khilafnya. Dia hanya bisa termangu, meratapi nasib malangnya.
Mendengar cerita Pak Qalyubi, hatinya tersentuh. Terlintas dibenaknya, istri yang sedang hamil tua, yang baik, perhatian, ramah, patuh, mengandung darah daging buah cintanya. Dengan sigap tiba-tiba ia pamit dan cepat-cepat pulang ke rumah kontrakannya.
Kemudian ia mengambil buku tabungan istrinya dan mengambil uangnya di bank. Dengan uang itu-dan sedikit tambahan darinya- ia membeli segala perlengkapan melahirkan dan perlengkapan bayi. Saat itu adalah saat dimana ia baru menyadari betapa ia beruntung mendapat seorang istri yang shalehah. Dengan hati berbungan-bunga kemudian ia mendatangi rumah mertuanya yang menjadi tempat tinggal sementara istrinya selagi ditinggal seminar.
Namun, tak disangka dan tak dinyana olehnya. Yang didapati saat itu adalah berita duka, kematian istrinya. Hatinya begitu sakit. Telinganya seakan menolak dan tak percaya. Lalu mertua yang tahu perasaannya itu meminta maaf padanya karena tidak memberi kabar apapun tentang kematian dan penyebab istrinya yang meninggal 3 hari lalu. Sebelum meninggal istrinya, berpesan terhadap ibunya untuk tidak memberi tahu tentang sakitnya, karena ia tidak mau mengganggu sang suami yang sedang mengikuti penataran penting di tempat mengajarnya.
Dengan hati hancur dan penuh penyesalan, dia dengan diantar mertuanya mendatangi makam sang istri. Di sana mereka berdoa bersama. Semoga arwahnya dapat diterima di sisi-Nya. Amin.
CERPEN : Langkah-langkah Rini
Beribu-ribu kilometer yang ditempuhnya, namun tak dirasa cukup untuk menghapus dosanya selama ini. Rini, wanita yang hampir tiap malam mangkal di perempatan jalan dekat bank BCA di kotaku, tak hentinya menyusuri kota mencari kebenaran yang samasekali tak ku pahami. Kaki walangnya seakan tak kenal lelah. Mungkin telinganya sudah panas, bila terus dijejali nasehat-nasehat tak berbenang merah dari Pak Haji yang tua dan kadang sedikit genit. Hatinya mungkin juga sudah cukup sabar menunggu pengajian di teve sampai temanya pas dengan masalah yang dihadapinya saat ini. Karena itu, dia lebih memilih berlelah-lelah mencari orang atau sesuatu yang menurutnya pas untuk membimbingnya menuju ke jalan-Nya. Tapi aku tetap tidak tahu apa itu.
Sedangkan aku, aku selalu ada untuk menemaninya. Aku selalu mencintai dan menyayanginya setiap saat. Aku tak tahu apa yang menyebabkan ku begitu betah di sampingnya selama bertahun-tahun. Walaupun kadang cekcok kecil menghiasi hubungan kami. Hatiku ini tak mampu menolak gelora asmara yang begitu kuat dan menggebu, sekalipun dia pernah membuatku hampir dipecat dari pekerjaan yang selama ini ku damba.
Itu terjadi sekitar 7 bulan lalu. Padahal sebelumnya, dia tak pernah mengantarkan rantang makanan ke kantorku, namun hari itu dia begitu ingin memasakkanku sesuatu. Kemudian ia mengantarkan sendiri mahakaryanya itu ke kantorku. Tetapi sebelum ia sempat bertemu denganku, terlebih dahulu ia bertemu dengan suami bosku yang gatel kalau lihat cewek bening dikit. Apalagi waktu itu, Rini yang tinggi semampai dan berambut ikal itu memakai pakaian yang menggambarkan tiap lekuk tubuhnya yang indah. Bapak berperut buncit, berkumis tipis, dan berambut klimis itu mencoba menggodanya. Rini yang kerja sehari-harinya memang menggoda, menanggapi godaan-godaan itu dengan santai dan seolah profesional. Namun, malang tak dapat ditolak. Istrinya atau bosku sendiri memergoki mereka yang sedang asyik cubit-cubitan di ruang tamu kantorku. Bosku pun naik pitam. Dimaki-makinya sang suami, seperti saat Bu RT memergoki Pak RT yang sedang menggoda Pretty di serial TV Suami-suami Takut Istri. Aku yang baru tiba di ruang itu pun tertawa dalam hati. Namun, ketika bosku melontarkan kata-kata kotor pada Rini, spontan aku membentaknya. Aku tak rela seorang pun menghinanya. Sekalipun kata-kata itu benar adanya. Terjadi adu mulut dan keributan kecil di kantorku. Untung, aku adalah salah satu karyawan yang dikenal baik, rajin, dan ulet. Jadi aku dapat lolos dari ancaman PHK. Sejak saat itu, aku tak pernah mengizinkannya pergi ke kantorku lagi. Untuk mencegah keributan susulan. Dan aku tak pernah cemburu oleh perbuatan-perbuatannya yang semacam itu. Aku seolah paham, mengerti, dan maklum oleh ulahnya yang genit. Toh aku tahu, dia mencintai dan menyayangiku sepenuh hati. Dia juga memperlakukanku secara istimewa, tak sama seperti ia memperlakukan pelanggannya.
Dan sekarang, kami berjalan kaki berdua untuk mencari sesuatu yang entah apa itu namun terlihat penting baginya. “Mas, pokoknya aku harus ketemu sama orang yang pinter agama, yang bisa menghapus dosa-dosaku, atau yang bisa kasih tahu gimana caranya aku ngomong sama Tuhan. Biar nanti aku sendiri yang minta ampun sama minta dihapusin dosa-dosanya dan aku bisa langsung tahu jawaban-Nya!”, rengeknya sambil terus berjalan tanpa arah seperti orang linglung. Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Karena aku sendiri tak tahu apa itu dosa dan tak kenal siapa itu Tuhan.
“Kenapa nggak tanya Pak Haji saja? Dia kan orang yang paling pinter agama di kampung kita.”, usulku sekedar basa-basi.
“Alah, ogah ah! Dia itu haji bohongan! Masa Haji kok genit, suka pegang-pegang tanganku! Kalau dibayar sih nggak pa-pa.”, tangkisnya spontan,”kita kan mau nikah, jadi aku harus cepet-cepet taubat”.
“Emangnya kenapa?”, aku bertanya.
“Ohh.. lha mase nggak tau tho? Mas kan tahu dulu keluargaku itu dihina-hina, dilecehkan karena nggak punya uang. Terus tetanggaku, mbak Siti, waktu nikah, duh.. bener-bener deh, nggak ada nuraninya. Dia bilang sama aku, kalau aku ini nggak akan mampu buat acara kawinan yang megah kayak punya dia. Makanya, aku janji sama Tuhan, kalau Tuhan kasih aku pelanggan yang banyak, terus aku kaya, dan bisa ngadain acara kawinan yang lebih megah dari mbak Siti, aku akan taubat! Dan sekarang, 4 hari lagi kita akan nikah. Kalau aku nggak cepet-cepet taubat, bisa-bisa aku jatuh miskin lagi!”, jelasnya panjang lebar sambil terus mencari-mencari sesuatu yang ia sendiri pun tak tahu apa itu.
Aku mulai sedikit kesal dengannya. “Katanya nggak kenal Tuhan, terus kenapa dia buat janji sama Tuhan, ngerepotin saja” kataku dalam hati. “Iya nduk, tapi kan bisa pakai motor mas. Biar butut-butut gitu kalau diisi bensin ya jalan kok. Jangan jalan kaki gini dong, aku capek ni.”, kataku dengan nada sedikit tinggi.
“Udah nggak keburu, lagian kalau jalan kaki kan lebih teliti. Ini kan demi kita juga, mas ya harus sabar! Nggak usah sambil ngotot!”, balasnya sekenanya sambil terus jalan tanpa arah.
“Kamu itu terlalu percaya sama tahayul, sama mitos”.
“Tuhan itu bukan mitos, aku percaya Tuhan itu ada”, katanya sambil menatapku penuh amarah.
“Tahu apa sih kamu soal Tuhan? Aku tahu kamu dari dulu juga nggak pernah diajari ngaji! Aku juga tahu kalau sebenarnya kamu nggak tahu mau kemana, kamu cuma asal jalan aja kan!”, kataku dengan nada yang lebih tinggi.
“Kalau nggak mau cari, pulang aja. Aku tahu kok kalau mas itu anak mami. Jalan baru berapa langkah aja dah kecapean”, ujarnya sambil tetap sibuk.
“Ah, kamu itu paling lagi stres mikirin acara nikahan kita. Udahlah dibawa santai aja. Oh.. atau bener kata temen-temenmu, kalau pelangganmu itu hari ke hari tambah nyusut, terus kamunya jadi stres. Mungkin pelangganmu itu mulai sadar kalau kamu itu tingkah lakunya aneh. Berhenti, kita nggak usah cari-cari apa itu Tuhan! Kalau kamu nggak mau pulang biar aku sendiri yang pulang. Aku nggak mau ngelakuin hal-hal konyol kayak gini!”, aku benar-benar marah. Lalu aku membalikkan badan dan menyeberangi jalan. aku sudah tak peduli lagi dengan urusan dan Tuhan-nya.
Setelah sampai di seberang jalan aku berkata,”kalau kamu mau ketemu Tuhan dengan gampang, MATI aja!”. Aku melihatnya dari kejauhan. Dia tampak melihatku dengan tatapan nanar. Aku tetap melaju dan tak menghiraukannya. Mungkin dia benar-benar stres menghadapi hari pernikahan kami yang sebentar lagi akan berlangsung, atau mungkin dia mulai sadar kalau yang ia lakukan selama ini adalah dosa dan ia benar-benar ingin bertaubat. Tapi,.. entahlah. Yang penting, apa pun yang terjadi, seberapa hebat pun kemarahan ku, sekotor-kotor apa pun kalimat yang ku ucapkan, aku tetaplah mencintainya. Aku hanya ingin dia tidak memikirkan hal-hal yang aneh, yang takutnya juga akan membuatku ikutan aneh. Aku berusaha keras untuk tidak menoleh lagi ke arahnya, aku juga mencoba untuk terlihat benar-benar tidak peduli yang dengan apa yang dia lakukan.
Setelah tiba di rumah, hp-ku berbunyi. Nampaknya Rini yang menelpon. Aku tahu dia pasti mau minta maaf. Tapi panggilannya tak kujawab. “Sudah mas maafkan, dek.”, ucapku dalam hati. Aku bermaksud membuatnya benar-benar yakin kalau aku marah. Karena yang sudah-sudah, jika aku melembek dia jadi ngelunjak dan nggak sadar lagi kalau salah. Tak patah arangnya dia menelponku. Mungkin sudah 7 panggilan tak terjawab darinya di hp-ku.
Setelah tiba di rumah, hp-ku berbunyi. Nampaknya Rini yang menelpon. Aku tahu dia pasti mau minta maaf. Tapi panggilannya tak kujawab. “Sudah mas maafkan, dek.”, ucapku dalam hati. Aku bermaksud membuatnya benar-benar yakin kalau aku marah. Karena yang sudah-sudah, jika aku melembek dia jadi ngelunjak dan nggak sadar lagi kalau salah. Tak patah arangnya dia menelponku. Mungkin sudah 7 panggilan tak terjawab darinya di hp-ku.
Hampir satu jam setelah aku meninggalkannya. Tiba-tiba Suparno, tetanggaku yang menjadi pedagang kakilima di pinggir jalan,datang ke rumahku dengan keburu-buru dan nafas yang tersengal-sengal. Aku dibuat kaget dengan kedatangannya.
“Mas, anu.. itu..”, katanya terlihat panik.
“Ada apa?”
“Mbak Rini, mas. Dia… bisa dipastiin udah nggak ada.”
“Kamu ngomong apa sih? Kalau ngomong dipikir dulu dong! sejam yang lalu aku masih jalan sama dia, dia masih sehat-sehat aja kok.”
“Iya mas.. mbak Rini sih emang nggak sakit apa-apa, tapi Mbak Rini meninggal karena hanyut di sungai. Sungainya lagi gede benget, soalnya kemarin hujan lebat! Jenazahnya belum bisa diambil, harus tunggu sampai sungainya sat. itu mungkin baru besok”, ucapnya sambil tergagap-gagap.
Aku yang mendengar seakan tak percaya. Mulutku seperti beku, sulit sekali untuk bicara. Perasaanku hancur seperti kendi yang dijatuhkan ke ubin. “Kok bisa? Dia kepeleset? Apa nggak ada yang nolongin?”
“Dia nggak kepeleset, dia sengaja terjun. Katanya, dia mau ketemu sama Tuhan, terus katanya dia lagi, dia dikasih tahu mas kalau mau ketemu Tuhan dengan cepet dia harus mati dulu. Makanya dia nekat banget. Orang-orang juga sudah ngelarang. Tapi dia nggak mau nurut, katanya dia mau nurut cuma sama mas aja. Mbak Rini kayak orang kesurupan, susah diajak ngomong. terus aku telpon mas, pake hapenya yang aku ambil sendiri dari tasnya yang ditinggal di pinggir jalan. Tapi mas nggak ngangkat-ngangkat. Akhirnya aku pikir lebih baik aku ke rumah mas aja langsung. Tapi pas di perjalanan ada yang telpon aku, katanya mbak Rini udah loncat, ya udah bisa dipastiinlah kalau dia udah nggak ada”, jelasnya panjang lebar.
“Kenapa mas Suparno yakin kalau Rini udah nggak ada?”, tanyaku masih tak percaya.
“Ya gimana, tadi malem hujannya deres banget. Arusnya juga lagi gede-gedenya. Sekarang juga nggak ada yang mau nolongin, soalnya semua juga takut keseret arus”, jelas Suparno meyakinkanku bahwa Rini sudah tak dapat diselamatkan lagi.
Aku tak dapat berkata-kata lagi. Mataku menerawang jauh dari tempatku berdiri. Pikiranku melayang-layang, memutar kembali memori tentangnya. Dan aku hanya bisa duduk termangu bersama segala sesal yang tak bisa menghapus lara di hati dan yang tak bisa mengusap air di pipi. Bagai disambar petir rasanya. Rini perempuan yang paling kucinta, selamanya kucinta.
buat Ma sayang
Alhamdulillah.. sekian lama aku menunggu..
akhirnya, bisa juga aku buat Blog?! Blog ini memang punya ThumB, tapi ini ThumB persembahkan buat Ma ku tersayang... Semoga Blog ini ada manfaatnya untuk semua manusia di bumi ini, khususnya umat Nabi Muhammad saw. Dan semoga Ma suka, Ma bisa menikmati, Ma masih mau berpartisipasi.. Amin. ThumB sayang Ma yang selalu sayang ThumB..
akhirnya, bisa juga aku buat Blog?! Blog ini memang punya ThumB, tapi ini ThumB persembahkan buat Ma ku tersayang... Semoga Blog ini ada manfaatnya untuk semua manusia di bumi ini, khususnya umat Nabi Muhammad saw. Dan semoga Ma suka, Ma bisa menikmati, Ma masih mau berpartisipasi.. Amin. ThumB sayang Ma yang selalu sayang ThumB..
Langganan:
Postingan (Atom)