Jumat, 08 Mei 2009

CERPEN : Langkah-langkah Rini

Beribu-ribu kilometer yang ditempuhnya, namun tak dirasa cukup untuk menghapus dosanya selama ini. Rini, wanita yang hampir tiap malam mangkal di perempatan jalan dekat bank BCA di kotaku, tak hentinya menyusuri kota mencari kebenaran yang samasekali tak ku pahami. Kaki walangnya seakan tak kenal lelah. Mungkin telinganya sudah panas, bila terus dijejali nasehat-nasehat tak berbenang merah dari Pak Haji yang tua dan kadang sedikit genit. Hatinya mungkin juga sudah cukup sabar menunggu pengajian di teve sampai temanya pas dengan masalah yang dihadapinya saat ini. Karena itu, dia lebih memilih berlelah-lelah mencari orang atau sesuatu yang menurutnya pas untuk membimbingnya menuju ke jalan-Nya. Tapi aku tetap tidak tahu apa itu.
Sedangkan aku, aku selalu ada untuk menemaninya. Aku selalu mencintai dan menyayanginya setiap saat. Aku tak tahu apa yang menyebabkan ku begitu betah di sampingnya selama bertahun-tahun. Walaupun kadang cekcok kecil menghiasi hubungan kami. Hatiku ini tak mampu menolak gelora asmara yang begitu kuat dan menggebu, sekalipun dia pernah membuatku hampir dipecat dari pekerjaan yang selama ini ku damba.
Itu terjadi sekitar 7 bulan lalu. Padahal sebelumnya, dia tak pernah mengantarkan rantang makanan ke kantorku, namun hari itu dia begitu ingin memasakkanku sesuatu. Kemudian ia mengantarkan sendiri mahakaryanya itu ke kantorku. Tetapi sebelum ia sempat bertemu denganku, terlebih dahulu ia bertemu dengan suami bosku yang gatel kalau lihat cewek bening dikit. Apalagi waktu itu, Rini yang tinggi semampai dan berambut ikal itu memakai pakaian yang menggambarkan tiap lekuk tubuhnya yang indah. Bapak berperut buncit, berkumis tipis, dan berambut klimis itu mencoba menggodanya. Rini yang kerja sehari-harinya memang menggoda, menanggapi godaan-godaan itu dengan santai dan seolah profesional. Namun, malang tak dapat ditolak. Istrinya atau bosku sendiri memergoki mereka yang sedang asyik cubit-cubitan di ruang tamu kantorku. Bosku pun naik pitam. Dimaki-makinya sang suami, seperti saat Bu RT memergoki Pak RT yang sedang menggoda Pretty di serial TV Suami-suami Takut Istri. Aku yang baru tiba di ruang itu pun tertawa dalam hati. Namun, ketika bosku melontarkan kata-kata kotor pada Rini, spontan aku membentaknya. Aku tak rela seorang pun menghinanya. Sekalipun kata-kata itu benar adanya. Terjadi adu mulut dan keributan kecil di kantorku. Untung, aku adalah salah satu karyawan yang dikenal baik, rajin, dan ulet. Jadi aku dapat lolos dari ancaman PHK. Sejak saat itu, aku tak pernah mengizinkannya pergi ke kantorku lagi. Untuk mencegah keributan susulan. Dan aku tak pernah cemburu oleh perbuatan-perbuatannya yang semacam itu. Aku seolah paham, mengerti, dan maklum oleh ulahnya yang genit. Toh aku tahu, dia mencintai dan menyayangiku sepenuh hati. Dia juga memperlakukanku secara istimewa, tak sama seperti ia memperlakukan pelanggannya.
Dan sekarang, kami berjalan kaki berdua untuk mencari sesuatu yang entah apa itu namun terlihat penting baginya. “Mas, pokoknya aku harus ketemu sama orang yang pinter agama, yang bisa menghapus dosa-dosaku, atau yang bisa kasih tahu gimana caranya aku ngomong sama Tuhan. Biar nanti aku sendiri yang minta ampun sama minta dihapusin dosa-dosanya dan aku bisa langsung tahu jawaban-Nya!”, rengeknya sambil terus berjalan tanpa arah seperti orang linglung. Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Karena aku sendiri tak tahu apa itu dosa dan tak kenal siapa itu Tuhan.
“Kenapa nggak tanya Pak Haji saja? Dia kan orang yang paling pinter agama di kampung kita.”, usulku sekedar basa-basi.
“Alah, ogah ah! Dia itu haji bohongan! Masa Haji kok genit, suka pegang-pegang tanganku! Kalau dibayar sih nggak pa-pa.”, tangkisnya spontan,”kita kan mau nikah, jadi aku harus cepet-cepet taubat”.
“Emangnya kenapa?”, aku bertanya.
“Ohh.. lha mase nggak tau tho? Mas kan tahu dulu keluargaku itu dihina-hina, dilecehkan karena nggak punya uang. Terus tetanggaku, mbak Siti, waktu nikah, duh.. bener-bener deh, nggak ada nuraninya. Dia bilang sama aku, kalau aku ini nggak akan mampu buat acara kawinan yang megah kayak punya dia. Makanya, aku janji sama Tuhan, kalau Tuhan kasih aku pelanggan yang banyak, terus aku kaya, dan bisa ngadain acara kawinan yang lebih megah dari mbak Siti, aku akan taubat! Dan sekarang, 4 hari lagi kita akan nikah. Kalau aku nggak cepet-cepet taubat, bisa-bisa aku jatuh miskin lagi!”, jelasnya panjang lebar sambil terus mencari-mencari sesuatu yang ia sendiri pun tak tahu apa itu.
Aku mulai sedikit kesal dengannya. “Katanya nggak kenal Tuhan, terus kenapa dia buat janji sama Tuhan, ngerepotin saja” kataku dalam hati. “Iya nduk, tapi kan bisa pakai motor mas. Biar butut-butut gitu kalau diisi bensin ya jalan kok. Jangan jalan kaki gini dong, aku capek ni.”, kataku dengan nada sedikit tinggi.
“Udah nggak keburu, lagian kalau jalan kaki kan lebih teliti. Ini kan demi kita juga, mas ya harus sabar! Nggak usah sambil ngotot!”, balasnya sekenanya sambil terus jalan tanpa arah.
“Kamu itu terlalu percaya sama tahayul, sama mitos”.
“Tuhan itu bukan mitos, aku percaya Tuhan itu ada”, katanya sambil menatapku penuh amarah.
“Tahu apa sih kamu soal Tuhan? Aku tahu kamu dari dulu juga nggak pernah diajari ngaji! Aku juga tahu kalau sebenarnya kamu nggak tahu mau kemana, kamu cuma asal jalan aja kan!”, kataku dengan nada yang lebih tinggi.
“Kalau nggak mau cari, pulang aja. Aku tahu kok kalau mas itu anak mami. Jalan baru berapa langkah aja dah kecapean”, ujarnya sambil tetap sibuk.
“Ah, kamu itu paling lagi stres mikirin acara nikahan kita. Udahlah dibawa santai aja. Oh.. atau bener kata temen-temenmu, kalau pelangganmu itu hari ke hari tambah nyusut, terus kamunya jadi stres. Mungkin pelangganmu itu mulai sadar kalau kamu itu tingkah lakunya aneh. Berhenti, kita nggak usah cari-cari apa itu Tuhan! Kalau kamu nggak mau pulang biar aku sendiri yang pulang. Aku nggak mau ngelakuin hal-hal konyol kayak gini!”, aku benar-benar marah. Lalu aku membalikkan badan dan menyeberangi jalan. aku sudah tak peduli lagi dengan urusan dan Tuhan-nya.
Setelah sampai di seberang jalan aku berkata,”kalau kamu mau ketemu Tuhan dengan gampang, MATI aja!”. Aku melihatnya dari kejauhan. Dia tampak melihatku dengan tatapan nanar. Aku tetap melaju dan tak menghiraukannya. Mungkin dia benar-benar stres menghadapi hari pernikahan kami yang sebentar lagi akan berlangsung, atau mungkin dia mulai sadar kalau yang ia lakukan selama ini adalah dosa dan ia benar-benar ingin bertaubat. Tapi,.. entahlah. Yang penting, apa pun yang terjadi, seberapa hebat pun kemarahan ku, sekotor-kotor apa pun kalimat yang ku ucapkan, aku tetaplah mencintainya. Aku hanya ingin dia tidak memikirkan hal-hal yang aneh, yang takutnya juga akan membuatku ikutan aneh. Aku berusaha keras untuk tidak menoleh lagi ke arahnya, aku juga mencoba untuk terlihat benar-benar tidak peduli yang dengan apa yang dia lakukan.
Setelah tiba di rumah, hp-ku berbunyi. Nampaknya Rini yang menelpon. Aku tahu dia pasti mau minta maaf. Tapi panggilannya tak kujawab. “Sudah mas maafkan, dek.”, ucapku dalam hati. Aku bermaksud membuatnya benar-benar yakin kalau aku marah. Karena yang sudah-sudah, jika aku melembek dia jadi ngelunjak dan nggak sadar lagi kalau salah. Tak patah arangnya dia menelponku. Mungkin sudah 7 panggilan tak terjawab darinya di hp-ku.
Hampir satu jam setelah aku meninggalkannya. Tiba-tiba Suparno, tetanggaku yang menjadi pedagang kakilima di pinggir jalan,datang ke rumahku dengan keburu-buru dan nafas yang tersengal-sengal. Aku dibuat kaget dengan kedatangannya.
“Mas, anu.. itu..”, katanya terlihat panik.
“Ada apa?”
“Mbak Rini, mas. Dia… bisa dipastiin udah nggak ada.”
“Kamu ngomong apa sih? Kalau ngomong dipikir dulu dong! sejam yang lalu aku masih jalan sama dia, dia masih sehat-sehat aja kok.”
“Iya mas.. mbak Rini sih emang nggak sakit apa-apa, tapi Mbak Rini meninggal karena hanyut di sungai. Sungainya lagi gede benget, soalnya kemarin hujan lebat! Jenazahnya belum bisa diambil, harus tunggu sampai sungainya sat. itu mungkin baru besok”, ucapnya sambil tergagap-gagap.
Aku yang mendengar seakan tak percaya. Mulutku seperti beku, sulit sekali untuk bicara. Perasaanku hancur seperti kendi yang dijatuhkan ke ubin. “Kok bisa? Dia kepeleset? Apa nggak ada yang nolongin?”
“Dia nggak kepeleset, dia sengaja terjun. Katanya, dia mau ketemu sama Tuhan, terus katanya dia lagi, dia dikasih tahu mas kalau mau ketemu Tuhan dengan cepet dia harus mati dulu. Makanya dia nekat banget. Orang-orang juga sudah ngelarang. Tapi dia nggak mau nurut, katanya dia mau nurut cuma sama mas aja. Mbak Rini kayak orang kesurupan, susah diajak ngomong. terus aku telpon mas, pake hapenya yang aku ambil sendiri dari tasnya yang ditinggal di pinggir jalan. Tapi mas nggak ngangkat-ngangkat. Akhirnya aku pikir lebih baik aku ke rumah mas aja langsung. Tapi pas di perjalanan ada yang telpon aku, katanya mbak Rini udah loncat, ya udah bisa dipastiinlah kalau dia udah nggak ada”, jelasnya panjang lebar.
“Kenapa mas Suparno yakin kalau Rini udah nggak ada?”, tanyaku masih tak percaya.
“Ya gimana, tadi malem hujannya deres banget. Arusnya juga lagi gede-gedenya. Sekarang juga nggak ada yang mau nolongin, soalnya semua juga takut keseret arus”, jelas Suparno meyakinkanku bahwa Rini sudah tak dapat diselamatkan lagi.
Aku tak dapat berkata-kata lagi. Mataku menerawang jauh dari tempatku berdiri. Pikiranku melayang-layang, memutar kembali memori tentangnya. Dan aku hanya bisa duduk termangu bersama segala sesal yang tak bisa menghapus lara di hati dan yang tak bisa mengusap air di pipi. Bagai disambar petir rasanya. Rini perempuan yang paling kucinta, selamanya kucinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar